Trensehat.id – Bayangkan seseorang mengalami kecelakaan parah. Perdarahan hebat, kesadaran menurun, sementara bantuan medis belum tiba. Dalam kondisi seperti ini, waktu bukan sekadar angka. Beberapa menit bisa menentukan apakah seseorang selamat, mengalami kecacatan permanen, atau kehilangan nyawa.
Situasi seperti itu bisa terjadi kapan saja. Bukan hanya akibat kecelakaan, tetapi juga ketika gempa, banjir, longsor, kebakaran, atau bencana lainnya melanda.
Bagi Indonesia, ancaman tersebut bukan sesuatu yang jauh. World Risk Index 2025 menempatkan Indonesia di peringkat ketiga dari 193 negara dalam indeks risiko bencana. Kondisi ini menunjukkan pentingnya kesiapan menghadapi keadaan darurat, termasuk kesiapan tenaga kesehatan yang berada di garis depan penanganan pasien kritis.
Dalam situasi seperti inilah dokter emergensi memiliki peran penting. Mereka dituntut mampu mengambil keputusan cepat ketika kondisi pasien dapat berubah dalam hitungan menit.
Dokter Emergensi dan Tantangan Menangani Kondisi Kritis
Pelayanan kegawatdaruratan memiliki karakter yang berbeda dari pelayanan kesehatan biasa. Pasien dapat datang dengan kondisi yang belum diketahui sepenuhnya dan membutuhkan penilaian serta tindakan segera.
Press release Symposium on Emergency (SOE) PDEI 2026 menyebut pelayanan kegawatdaruratan sebagai garda terdepan sistem kesehatan karena memberikan tindakan medis cepat dan tepat pada detik-detik kritis yang dapat menentukan hidup, mati, atau kecacatan permanen pasien.
Dalam kondisi tersebut, dokter emergensi tidak hanya dituntut memiliki kemampuan klinis, tetapi juga mampu menentukan prioritas penanganan ketika menghadapi pasien dengan tingkat kegawatan yang berbeda.
Perannya juga tidak berhenti di ruang gawat darurat rumah sakit. Pada kondisi tertentu, penanganan harus dimulai sejak pasien masih berada di lokasi kejadian atau pada fase pre-hospital.
Tantangan tersebut semakin besar ketika terjadi bencana dengan banyak korban sekaligus.
Data BNPB menunjukkan sepanjang Januari-Juni 2025 terdapat 1.784 kejadian bencana di Indonesia. Peristiwa tersebut menyebabkan lebih dari 4,38 juta orang menderita dan mengungsi, sementara 308 orang meninggal atau hilang.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap pelayanan kegawatdaruratan bukan hanya muncul saat terjadi bencana besar. Sistem kesehatan harus memiliki kapasitas untuk merespons berbagai keadaan darurat yang dapat terjadi di berbagai wilayah.
Karena itu, keberadaan dokter emergensi yang memiliki kompetensi dan kesiapan menghadapi situasi kritis menjadi bagian penting dari sistem pelayanan kesehatan.
Indonesia Perlu Tim Kegawatdaruratan yang Siap Bergerak
Dalam situasi bencana, fasilitas kesehatan di sekitar lokasi kejadian bisa ikut terdampak. Akses menuju lokasi juga dapat terganggu. Penanganan korban membutuhkan tim medis yang bukan hanya kompeten, tetapi juga siap bergerak ke lokasi yang membutuhkan.
Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam SOE PDEI 2026. Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin dalam sambutannya saat pembukaan acara menekankan pentingnya menyiapkan tim kegawatdaruratan medis yang dapat diterjunkan ke berbagai daerah di Indonesia. Ia juga menyampaikan rencana penyediaan beberapa pusat Emergency Medical Team di setiap pulau besar Indonesia, dengan kemungkinan tiga pusat di Pulau Jawa.
Kebutuhan tersebut sejalan dengan kondisi geografis Indonesia yang luas dan memiliki berbagai potensi bencana.
Dalam situasi seperti ini, dokter emergensi dan tenaga kesehatan lainnya harus mampu bekerja dalam kondisi penuh tekanan, menghadapi jumlah pasien yang banyak, serta menentukan prioritas berdasarkan tingkat kegawatan.
Ketua Panitia SOE PDEI 2026, dr. Fachrurrozy Basalamah, menegaskan komitmen Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI) untuk meningkatkan kapasitas tenaga medis dan tenaga kesehatan dalam menghadapi kondisi gawat darurat, baik di rumah sakit maupun pada fase pre-hospital.
Kesiapan tersebut menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas dan peralatan. Tenaga yang mengoperasikan sistem tersebut juga harus memiliki kompetensi yang terus diperbarui.
Di tengah kondisi geografis Indonesia yang luas, tim kegawatdaruratan juga perlu memiliki kemampuan beradaptasi dengan kondisi lapangan yang berbeda-beda. Hal ini membuat pelatihan dan simulasi menjadi bagian penting dalam membangun kesiapan.
Teknologi Membantu Dokter Emergensi Menyelamatkan Nyawa
Perkembangan teknologi ikut mengubah pelayanan kegawatdaruratan. Peralatan medis yang semakin portabel dan teknologi yang mendukung diagnosis dapat membantu tenaga kesehatan mengambil keputusan lebih cepat, terutama ketika waktu menjadi faktor yang sangat menentukan.
Hal ini menjadi salah satu perhatian dalam SOE PDEI 2026 yang mengangkat tema “Emergency Care for the Next Decade; Innovation, Technology, and Community Preparedness”.
Selain symposium dan workshop untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan peserta, kegiatan tersebut juga menghadirkan berbagai teknologi kesehatan. Di antaranya perangkat USG dari Butterfly dan simulator emergency dari Zoll, serta berbagai produk dan layanan pendukung pelayanan kesehatan lainnya.
Bagi dokter emergensi, teknologi bukan sekadar pelengkap. Penggunaan perangkat yang tepat dapat membantu proses penilaian kondisi pasien dan mendukung pengambilan keputusan dalam situasi yang membutuhkan respons cepat.
Ketua Umum PDEI, dr. Wishnu Pramudito, Sp.B., mengatakan Indonesia dan seluruh stakeholder perlu bersiap menghadapi berbagai jenis bencana. Menurutnya, setiap pihak perlu menyiapkan kompetensinya agar mampu menghadapi situasi tersebut.
Pada akhirnya, kesiapan menghadapi bencana bukan hanya soal seberapa cepat bantuan datang. Yang tidak kalah penting adalah seberapa siap tenaga kesehatan mengambil keputusan ketika kondisi pasien berada dalam keadaan kritis.
Di titik inilah dokter emergensi menjadi bagian penting dari sistem keselamatan masyarakat. Ketika waktu sangat terbatas dan kondisi pasien terus berubah, kemampuan untuk bertindak cepat dan tepat dapat menjadi pembeda antara kehilangan dan kesempatan untuk menyelamatkan nyawa.
Bencana memang tidak selalu bisa diprediksi. Namun, kesiapan menghadapinya bisa dibangun sejak sekarang.




