Berita Terkini

Sakit Sedikit Langsung Google? Awas, Bahaya Self-Diagnosis

Trensehat.id – Pernah baru merasa pusing, lalu buka Google? Awalnya cuma mencari “kenapa kepala pusing”, tetapi 10 menit kemudian Anda sudah membaca tentang stroke, tumor otak, sampai penyakit langka.

Internet memang membuat informasi kesehatan ada di ujung jari. Masalahnya, informasi yang mudah ditemukan belum tentu berarti diagnosis bisa dilakukan sendiri.

Kebiasaan mencari gejala di internet sebenarnya bukan sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. WHO justru mengakui internet dapat menjadi sumber informasi kesehatan yang bermanfaat. Namun, WHO mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan siapa yang membuat informasi, sumber datanya, kapan informasi diterbitkan, dan apakah sumber tersebut dapat dipercaya.

Di sinilah masalah self-diagnosis muncul. Gejala yang sama bisa muncul pada banyak kondisi berbeda. Karena itu, membaca daftar gejala di internet tidak sama dengan mendapatkan diagnosis medis.

Self-Diagnosis Bisa Membuat Kita Salah Menilai Kondisi

Bayangkan seseorang mengalami sakit kepala. Ia mencari informasi di internet dan menemukan bahwa sakit kepala dapat menjadi gejala banyak penyakit.

Masalahnya, pencarian internet biasanya bekerja berdasarkan kata kunci, bukan pemeriksaan fisik, riwayat kesehatan lengkap, pemeriksaan saraf, tekanan darah, obat yang sedang dikonsumsi, maupun faktor risiko seseorang.

Akibatnya, dua kemungkinan bisa terjadi.

Pertama, seseorang menjadi terlalu khawatir karena menganggap gejala ringan sebagai tanda penyakit serius. Kedua, seseorang justru merasa aman karena menemukan informasi yang mengatakan keluhannya “normal”, padahal sebenarnya membutuhkan pemeriksaan.

WHO menyebut penyebaran informasi kesehatan yang keliru dapat berkontribusi terhadap pilihan kesehatan yang berbahaya, pengobatan sendiri, penghentian terapi, hingga diagnosis yang salah.

Masalahnya bahkan bisa berkembang menjadi health anxiety. NHS menjelaskan bahwa orang dengan kecemasan terhadap kesehatan dapat terus-menerus memeriksa tubuh, mencari kepastian dari orang lain, dan secara obsesif mencari informasi penyakit di internet.

Jadi, bukan berarti Google adalah musuh.

Yang perlu dihindari adalah menjadikan hasil pencarian sebagai pengganti dokter.

Kalau Anda ingin tahu bagaimana menentukan dokter berdasarkan keluhan, baca juga Bingung Harus ke Dokter Apa? Ini Panduan Memilih Dokter Sesuai Keluhan.

Internet Boleh Jadi Sumber Informasi, Bukan Mesin Diagnosis

Lalu bagaimana sebaiknya menggunakan internet untuk urusan kesehatan?

Gunakan internet untuk memahami, bukan untuk memastikan diagnosis.

Misalnya, Anda mengalami nyeri perut. Anda boleh mencari informasi mengenai kemungkinan penyebab, memahami istilah medis, atau mencari tahu pertanyaan apa yang sebaiknya disampaikan kepada dokter.

Namun, jangan berhenti pada kesimpulan “berarti saya terkena penyakit X”.

WHO menyarankan masyarakat mengevaluasi informasi kesehatan dengan beberapa pertanyaan sederhana: siapa yang mengatakan, bagaimana mereka mengetahuinya, apakah sumbernya kredibel, apakah informasinya terbaru, dan apakah klaim tersebut didukung sumber yang jelas.

Sumber seperti Kementerian Kesehatan, WHO, rumah sakit, institusi akademik, dan organisasi profesi kedokteran umumnya jauh lebih layak dijadikan rujukan dibandingkan unggahan anonim atau video yang hanya mengandalkan pengalaman pribadi.

Tetapi ada satu hal penting: informasi kesehatan tetap tidak bisa menggantikan pemeriksaan langsung ketika kondisi memang membutuhkan evaluasi medis.

Kemenkes sendiri menekankan pentingnya deteksi dini. Program Cek Kesehatan Gratis pemerintah, misalnya, dirancang untuk membantu mengidentifikasi risiko penyakit dan mendeteksi masalah kesehatan lebih awal agar dapat segera ditindaklanjuti.

Artinya, ketika tubuh memberikan sinyal yang menetap, berulang, memburuk, atau mengganggu aktivitas, jangan hanya sibuk mencari jawabannya di internet.

Pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis.

Kapan Harus Berhenti Googling dan Mulai Konsultasi?

Ini bagian yang sering terlupakan.

Tidak semua keluhan membutuhkan kepanikan, tetapi ada kondisi yang sebaiknya tidak ditangani hanya dengan membaca artikel kesehatan.

Jika keluhan terus berlangsung, semakin berat, berulang, atau membuat aktivitas sehari-hari terganggu, konsultasi dengan dokter dapat membantu menentukan apakah diperlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Untuk kondisi tertentu, jangan menunggu konsultasi biasa. Misalnya, CDC mencantumkan kesulitan bernapas, nyeri atau tekanan dada yang menetap, kebingungan, kejang, kelemahan berat, atau kondisi kesadaran menurun sebagai tanda yang membutuhkan pertolongan medis segera dalam konteks penyakit pernapasan.

Jadi, rumus sederhananya:

Google untuk mencari informasi. Dokter untuk mencari kepastian medis.

Kalau Anda sudah merasa perlu berkonsultasi, langkah berikutnya adalah mencari dokter yang sesuai dengan keluhan dan kebutuhan Anda.

PeriksaDulu dapat membantu masyarakat menemukan dokter berdasarkan spesialisasi dan lokasi, sekaligus melihat informasi profil dokter sebelum menentukan pilihan.

Cari dokter yang sesuai dengan kebutuhan Anda melalui PeriksaDulu.com.

Dan ingat, memilih dokter juga tidak sebaiknya dilakukan secara asal. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum membuat janji konsultasi.

Baca artikel berikutnya: Jangan Asal Pilih Dokter! 7 Hal yang Wajib Dicek Sebelum Konsultasi.

Agus Mulyana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *