Berita Terkini

Tubuh Langsing Belum Tentu Sehat! Waspada Kolesterol Tinggi yang Diam-Diam Mengintai Orang Bertubuh Ideal

Trensehat.id – Banyak orang merasa tenang karena tubuhnya langsing. Jarum timbangan menunjukkan angka normal, pakaian tetap muat, dan tidak terlihat tanda-tanda obesitas. Namun, tahukah Anda bahwa tubuh langsing ternyata bukan jaminan bebas kolesterol tinggi maupun penyakit jantung?

Faktanya, banyak orang dengan berat badan normal justru menyimpan risiko kesehatan yang tidak terlihat dari luar. Kondisi ini dikenal sebagai obesitas pada berat badan normal (normal weight obesity), yaitu ketika seseorang memiliki lemak visceral yang tinggi meski indeks massa tubuh (BMI) masih normal.

Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam sesi edukasi kesehatan yang digelar PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI). Edukasi ini mengingatkan masyarakat agar tidak hanya menilai kesehatan dari penampilan fisik, tetapi juga rutin memeriksa kadar kolesterol, terutama LDL (kolesterol jahat).

Menurut WHO, penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. Sebagian besar kasus sebenarnya dapat dicegah melalui deteksi dini dan pengendalian faktor risiko, termasuk kadar kolesterol yang tinggi.

Tubuh Langsing Bisa Tetap Punya Kolesterol Tinggi, Kok Bisa?

Banyak orang mengira kolesterol tinggi hanya dialami mereka yang mengalami obesitas. Padahal kenyataannya tidak demikian.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari PERKI, dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP, menjelaskan bahwa seseorang dengan BMI normal tetap bisa mengalami penumpukan lemak visceral, yaitu lemak yang mengelilingi organ-organ penting di dalam tubuh.

Lemak visceral inilah yang berbahaya karena dapat memicu berbagai gangguan metabolik, seperti:

  • Dislipidemia atau kadar lemak darah yang tidak normal.
  • Resistensi insulin.
  • Peningkatan kadar kolesterol LDL.
  • Kenaikan trigliserida.
  • Meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.

Yang lebih mengkhawatirkan, dislipidemia hampir tidak menimbulkan gejala. Banyak orang merasa sehat-sehat saja hingga akhirnya mengalami serangan jantung secara tiba-tiba.

Berbagai penelitian besar, termasuk Nurses’ Health Study, serta publikasi di jurnal Diabetologia (2019) dan Endocrinology & Metabolism (2020), menunjukkan bahwa orang dengan berat badan normal tetapi mengalami gangguan metabolik memiliki risiko penyakit kardiovaskular sekitar dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan orang dengan metabolisme yang sehat.

Risiko ini bahkan lebih besar pada masyarakat Asia. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa orang Asia cenderung menyimpan lemak visceral lebih banyak meskipun berat badannya tidak berlebih. Karena itu, seseorang dapat terlihat kurus tetapi sebenarnya memiliki risiko tinggi terhadap penyakit metabolik.

Jangan Hanya Lihat Timbangan, Rutin Cek Profil Lipid

Salah satu kesalahan terbesar adalah merasa tidak perlu melakukan pemeriksaan kesehatan hanya karena tubuh terlihat ideal.

Padahal, satu-satunya cara mengetahui kadar kolesterol LDL adalah melalui pemeriksaan profil lipid di laboratorium.

PERKI merekomendasikan masyarakat, terutama yang memiliki faktor risiko seperti:

  • Riwayat keluarga penyakit jantung.
  • Diabetes.
  • Hipertensi.
  • Kebiasaan merokok.
  • Pola makan tinggi lemak jenuh.
  • Kurang aktivitas fisik.

untuk melakukan pemeriksaan kolesterol secara berkala.

Pedoman terapi terbaru bahkan menyarankan pasien dengan risiko kardiovaskular sangat tinggi mencapai kadar LDL di bawah 55 mg/dL, sekaligus menurunkan kadar LDL sedikitnya 50 persen dari kondisi awal.

Prinsip yang digunakan adalah “semakin rendah kadar LDL, semakin rendah pula risiko serangan jantung dan stroke.”

Selain pemeriksaan laboratorium, masyarakat juga dianjurkan menerapkan gaya hidup sehat, seperti:

  • Mengurangi makanan tinggi lemak jenuh dan lemak trans.
  • Memperbanyak konsumsi buah, sayur, dan serat.
  • Berolahraga minimal 150 menit setiap minggu.
  • Berhenti merokok.
  • Menjaga kualitas tidur.
  • Mengelola stres.

WHO juga menegaskan bahwa perubahan gaya hidup merupakan langkah pertama dalam mencegah penyakit jantung dan komplikasi kardiovaskular.

Pengobatan Kolesterol Kini Lebih Optimal dengan Terapi Kombinasi

Jika perubahan gaya hidup belum cukup menurunkan kadar kolesterol, dokter dapat memberikan terapi obat.

Dalam edukasi tersebut dijelaskan bahwa salah satu pendekatan modern adalah kombinasi statin dan ezetimibe.

Statin bekerja dengan menghambat pembentukan kolesterol di hati, sedangkan ezetimibe mengurangi penyerapan kolesterol di usus. Kombinasi keduanya membantu menurunkan kadar LDL melalui dua mekanisme sekaligus.

Keuntungan lainnya, kombinasi dosis tetap dalam satu tablet dapat membantu meningkatkan kepatuhan pasien karena lebih praktis dikonsumsi dalam jangka panjang.

Head of Brand and Marketing Daewoong, dr. Wicak Prasetiadi, mengatakan bahwa masih banyak masyarakat yang menganggap tubuh langsing berarti terbebas dari penyakit jantung.

Melalui edukasi ini, Daewoong bersama PERKI ingin meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa kolesterol tinggi dapat menyerang siapa saja tanpa memandang bentuk tubuh. Oleh karena itu, pemeriksaan rutin dan penanganan yang tepat menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan jantung.

Kesimpulannya, tubuh langsing bukan berarti bebas risiko penyakit kardiovaskular. Penampilan fisik hanya menunjukkan sebagian kecil dari kondisi kesehatan seseorang. Yang jauh lebih penting adalah mengetahui kondisi metabolik melalui pemeriksaan rutin, menerapkan pola hidup sehat, dan mengikuti anjuran dokter bila memerlukan terapi.

Jangan menunggu muncul gejala. Karena pada banyak kasus, kolesterol tinggi datang tanpa tanda, tetapi dampaknya bisa mengancam nyawa. (*)

Ade Priatna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *