Berita Terkini

SOE PDEI 2026 Sukses, dr. Rosita Rivai Pimpin PDEI 2026–2029

Trensehat.id – Bukan sekadar menutup sebuah symposium, SOE PDEI 2026 menjadi penanda bahwa perjalanan panjang organisasi dokter emergensi di Indonesia memasuki babak baru.

Setelah melewati pandemi, perubahan regulasi, tantangan organisasi, hingga proses pemulihan, Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI) menutup rangkaian SOE PDEI 2026 sekaligus mengukuhkan dr. Rosita Rivai, MM, FICEP sebagai Ketua PDEI periode 2026–2029.

Momentum ini terasa penting karena kepemimpinan baru tidak dimulai dari ruang kosong. Ada perjalanan panjang yang telah dilalui PDEI, termasuk periode 2020–2026 yang dalam laporan kepengurusan organisasi disebut berlangsung di tengah “dinamika pandemi, reformasi kesehatan, dan pemulihan organisasi”.

Dengan demikian, penutupan SOE PDEI 2026 bukan hanya soal berakhirnya agenda ilmiah. Ini adalah titik transisi: dari pengalaman menghadapi krisis menuju agenda baru untuk memperkuat pelayanan emergensi Indonesia.

Dari Pandemi ke SOE PDEI 2026: Perjalanan Panjang PDEI

Sulit membicarakan perjalanan PDEI beberapa tahun terakhir tanpa kembali mengingat pandemi COVID-19. Laporan kepengurusan PDEI mencatat bahwa pengurus periode 2020–2023 dilantik pada 15 Maret 2020, tepat ketika pemerintah menetapkan COVID-19 sebagai Bencana Nasional.

Pengurus kemudian langsung berhadapan dengan situasi krisis dan bergabung bersama jajaran tenaga kesehatan dalam penanggulangan pandemi.

Situasinya jelas tidak mudah. Gelombang Delta pada 2021 dan Omicron pada 2022 menyebabkan fasilitas kesehatan menghadapi tekanan besar, termasuk kelangkaan ruang ICU, oksigen medis, dan alat pelindung diri.

Laporan tersebut juga mencatat tingginya dampak terhadap tenaga medis yang sempat mengancam stabilitas pelayanan kesehatan dasar.

Namun, cerita PDEI tidak berhenti di masa krisis.

Ketika kegiatan organisasi harus beradaptasi dengan moda daring, koordinasi cabang, kaderisasi, perekrutan, hingga pelaksanaan kongres ikut terdampak.

Meski begitu, PDEI kemudian memasuki fase pemulihan melalui berbagai program, termasuk Emergency Talk, pelatihan BLS/BHD, hingga penyelenggaraan SOE ke-8 pada 2026.

Jejak program itu menunjukkan bahwa penguatan kompetensi tidak hanya dilakukan melalui symposium. Sepanjang 2021–2026, PDEI mencatat berbagai kegiatan mulai dari serial webinar COVID-19, program bersama WHO dan Project Hope, konsolidasi nasional, TOT BLS, SOE, Emergency Talk, roadshow BLS, pelatihan awam, hingga SOE PDEI 2026.

Pelayanan Emergensi Makin Penting, Kepemimpinan Baru Punya Pekerjaan Besar

Mengapa penguatan pelayanan emergensi begitu penting?

WHO menegaskan bahwa layanan emergensi, kritis, dan operatif merupakan bagian integral dari sistem kesehatan. Layanan ini dibutuhkan untuk menangani berbagai kondisi akut, mulai dari cedera dan infeksi hingga komplikasi kehamilan, serangan jantung, stroke, serta kondisi darurat lainnya.

WHO juga menilai sistem emergency care yang kuat menjadi fondasi penting bagi kemampuan negara menghadapi berbagai kedaruratan.

Konteks Indonesia bahkan semakin relevan. Pada Agustus 2026, WHO Indonesia melaporkan bahwa evaluasi respons bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menemukan kebutuhan untuk memperkuat koordinasi, kapasitas respons, sistem data, serta kemampuan surge capacity dalam menghadapi krisis kesehatan.

Artinya, pekerjaan dokter emergensi tidak berhenti di ruang IGD. Ada ekosistem besar yang harus dibangun: kesiapan tenaga kesehatan, sistem rujukan, layanan pra-rumah sakit, respons bencana, koordinasi lintas sektor, teknologi, hingga edukasi masyarakat.

Hal tersebut juga sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Kesehatan. Pada September 2026, Kemenkes menekankan penguatan tata kelola kegawatdaruratan melalui standardisasi Emergency Medical Team (EMT) dan peningkatan tata kelola Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Dalam konteks inilah pengukuhan dr. Rosita Rivai, MM, FICEP sebagai Ketua PDEI periode 2026–2029 menjadi lebih dari sekadar pergantian jabatan. Kepemimpinan baru akan berada di tengah kebutuhan untuk memastikan organisasi semakin adaptif, kolaboratif, dan mampu menjawab tantangan pelayanan emergensi yang terus berubah.

SOE PDEI 2026 Ditutup, Babak Baru PDEI Dimulai

Laporan kepengurusan PDEI 2020–2026 sendiri telah memberikan sejumlah rekomendasi penting untuk masa depan organisasi.

dr. Rosita Rivai, MM, FICEP, Ketua PP PDEI 2026-2029

Di antaranya adalah penataan AD/ART dan tata laksana organisasi, penguatan kemitraan strategis, pengembangan mini-workshop cabang, serta peningkatan kompetensi dokter umum dan lulusan baru dalam kegawatdaruratan.

Di sisi lain, penguatan cabang juga menjadi agenda penting. PDEI merekomendasikan reaktivasi cabang yang pasif, pembentukan cabang baru, penerbitan Kartu Tanda Anggota, serta pengelolaan anggota non-cabang secara daring agar dokter emergensi di berbagai wilayah tetap terhubung dengan organisasi.

Semua rekomendasi tersebut menjadi pekerjaan rumah sekaligus peluang bagi kepemimpinan PDEI 2026–2029.

Penutupan SOE PDEI 2026 akhirnya bukan benar-benar sebuah akhir. Ia menjadi garis start berikutnya.

Setelah melewati pandemi dan fase pemulihan organisasi, PDEI kini memasuki periode baru dengan tantangan yang tidak kalah besar: bagaimana memastikan ilmu kedokteran emergensi terus berkembang, kompetensi tenaga kesehatan semakin kuat, organisasi semakin solid, dan pelayanan kegawatdaruratan semakin siap menghadapi situasi apa pun.

Dengan pengukuhan dr. Rosita Rivai, MM, FICEP sebagai Ketua PDEI periode 2026–2029, babak baru itu resmi dimulai.

SOE PDEI 2026 boleh ditutup. Tetapi pekerjaan menyelamatkan nyawa dalam sistem pelayanan emergensi tentu tidak pernah benar-benar selesai. (*)

Ade Priatna

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *