Berita Terkini

Jangan Asal Memilih Program Kehamilan, Kenali Pilihan Medisnya

Trensehat.id – Punya rencana segera menambah anggota keluarga? Jangan hanya sibuk menghitung tanggal pernikahan, menyiapkan kamar bayi, atau menebak-nebak kapan masa subur tiba. Ada satu hal penting yang sering luput dari perhatian pasangan, yaitu menjaga kesehatan reproduksi sejak sebelum program kehamilan dimulai.

Kesuburan bukan hanya urusan perempuan. Kondisi kesehatan laki-laki juga memiliki peran penting dalam menentukan peluang terjadinya kehamilan. Karena itu, pasangan yang sedang merencanakan kehadiran buah hati sebaiknya tidak hanya fokus pada satu pihak.

Pentingnya memahami kesehatan reproduksi ini juga menjadi perhatian RS Brawijaya Antasari. Dalam rilis RS Brawijaya Antasari, dokter spesialis obstetri dan ginekologi dengan subspesialisasi fertilitas dan endokrinologi reproduksi, dr. Mohammad Haekal, Sp.OG, Subsp.FER, FICS, MIGS, mengingatkan bahwa infertilitas bukan semata-mata persoalan perempuan.

Pemeriksaan kesuburan sejak dini dapat membantu mengetahui faktor yang mungkin menghambat kehamilan sekaligus menentukan penanganan yang sesuai.

Bahkan, persoalan infertilitas ternyata bukan masalah kecil. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan terbarunya memperkirakan sekitar satu dari enam orang usia reproduksi di dunia mengalami infertilitas sepanjang hidupnya.

Lantas, apa saja yang sebaiknya dilakukan pasangan untuk menjaga kesehatan kesuburan? Berikut beberapa langkah yang bisa menjadi perhatian sebelum merencanakan kehamilan.

BACA JUGA: Susah Punya Momongan? Jangan Tunggu Terlambat, Kenali Pentingnya Cek Kesuburan di RS Brawijaya

7 Tips Menjaga Kesuburan yang Perlu Diketahui Pasangan

  1. Jangan hanya memeriksa kesehatan perempuan

Salah satu kesalahpahaman yang masih sering terjadi adalah menganggap kesulitan mendapatkan keturunan selalu disebabkan oleh perempuan.

Padahal, faktor laki-laki juga dapat berkontribusi terhadap infertilitas. Kualitas sperma dan kondisi kesehatan reproduksi pria merupakan bagian penting dalam evaluasi kesuburan.

Karena itu, pemeriksaan sebaiknya dilakukan oleh kedua pasangan. RS Brawijaya menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh agar penyebab kesulitan hamil dapat diketahui secara lebih tepat.

  1. Kenali kondisi menstruasi dan kesehatan reproduksi

Bagi perempuan, mengenali pola menstruasi merupakan salah satu cara memahami kondisi kesehatan reproduksi.

Gangguan menstruasi, sindrom ovarium polikistik atau polycystic ovary syndrome (PCOS), dan endometriosis merupakan beberapa kondisi yang perlu diperhatikan ketika merencanakan kehamilan.

Jika mengalami gangguan tersebut, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter. Pemeriksaan lebih awal dapat membantu menentukan apakah diperlukan evaluasi kesuburan lebih lanjut.

  1. Jangan mengabaikan faktor usia

Usia perempuan menjadi salah satu faktor penting dalam perencanaan kehamilan karena jumlah dan kualitas sel telur dapat mengalami penurunan seiring bertambahnya usia.

Dr. Haekal menjelaskan bahwa peluang keberhasilan program bayi tabung dapat berbeda berdasarkan usia pasien.

“Kalau pasangan yang menjalani IVF di bawah 35 tahun, angkanya jauh lebih tinggi. Bisa mencapai 65 persen. Tapi kalau sudah mencapai 35 tahun, peluangnya bisa turun menjadi sekitar 30 persen,” jelas dr. Haekal.

Angka tersebut bukan jaminan keberhasilan individual, tetapi menjadi pengingat agar pasangan tidak terus menunda konsultasi ketika memang membutuhkan pemeriksaan kesuburan.

  1. Lakukan pemeriksaan sebelum terlambat

Menurut dr. Haekal, pasangan suami istri disarankan menjalani pemeriksaan apabila belum mendapatkan kehamilan setelah 12 bulan melakukan hubungan seksual secara teratur tanpa kontrasepsi.

Namun, perempuan dengan faktor risiko seperti PCOS, endometriosis, gangguan menstruasi, atau riwayat masalah reproduksi dapat mempertimbangkan konsultasi lebih awal.

WHO juga mendefinisikan infertilitas sebagai kondisi ketika kehamilan belum terjadi setelah 12 bulan atau lebih melakukan hubungan seksual secara teratur tanpa kontrasepsi.

  1. Persiapkan kesehatan reproduksi sejak merencanakan pernikahan

Pemeriksaan kesehatan reproduksi tidak harus menunggu seseorang mengalami kesulitan mendapatkan keturunan.

Kementerian Kesehatan RI melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Upaya Kesehatan Reproduksi mengatur upaya kesehatan reproduksi bagi calon pengantin, termasuk edukasi mengenai faktor risiko kehamilan, pencegahan infertilitas, dan skrining kesehatan bagi calon pengantin laki-laki maupun perempuan.

Artinya, persiapan kesehatan reproduksi sebaiknya menjadi bagian dari perencanaan kehidupan berkeluarga.

  1. Jangan langsung menganggap bayi tabung sebagai satu-satunya jalan

Ketika kehamilan tak kunjung terjadi, sebagian pasangan mungkin langsung berpikir harus menjalani program bayi tabung.

Padahal, penanganan kesuburan tidak selalu harus dimulai dari teknologi reproduksi berbantu.

Menurut dr. Haekal, evaluasi kesuburan diperlukan untuk menentukan metode yang paling sesuai. Pilihannya dapat berupa upaya kehamilan alami, inseminasi, hingga in vitro fertilization (IVF) atau bayi tabung.

Di RS Brawijaya Antasari, layanan Benih IVF mulai beroperasi pada Oktober 2023.

Program IVF dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari stimulasi ovarium, pengambilan sel telur, proses pembuahan bersama sperma di laboratorium, hingga pemindahan embrio ke rahim atau pembekuan embrio untuk digunakan kemudian.

Selain IVF, layanan fertilitas di RS Brawijaya juga mencakup inseminasi, pembekuan embrio, pembekuan sel telur, pembekuan sperma, serta tindakan laparoskopi dan histeroskopi.

  1. Pahami peluang keberhasilan sebelum menjalani perawatan

Tips berikutnya adalah jangan hanya terpaku pada angka keberhasilan program kehamilan.

Dr. Haekal menyebutkan bahwa angka keberhasilan IVF yang terakhir tercatat di layanan tersebut berada di kisaran 45 persen. Namun, angka keberhasilan dapat berbeda bergantung pada karakteristik pasien dan metode penghitungan.

Pasangan sebaiknya berdiskusi dengan dokter mengenai peluang keberhasilan berdasarkan usia, kondisi kesuburan, serta pilihan tindakan yang tersedia.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah memahami bahwa kehamilan kembar bukan tujuan utama program bayi tabung. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko komplikasi, termasuk kelahiran prematur dan masalah kesehatan pada ibu maupun bayi.

Karena itu, tujuan penanganan fertilitas bukan sekadar mendapatkan kehamilan, melainkan mengupayakan kehamilan yang aman bagi ibu dan janin.

Pada akhirnya, menjaga kesuburan bukan hanya tentang menunggu datangnya kehamilan. Ada proses mengenali kondisi tubuh, mempersiapkan kesehatan reproduksi, dan mengambil keputusan medis berdasarkan pemeriksaan yang tepat.

Pesan penting dari RS Brawijaya adalah jangan membebankan persoalan kesuburan kepada satu pihak saja. Kedua pasangan perlu terlibat aktif dalam pemeriksaan dan perencanaan kehamilan.

Jika memang sedang merencanakan kehadiran buah hati, tidak ada salahnya mulai berkonsultasi lebih awal. Sebab, memahami kondisi kesehatan reproduksi hari ini bisa membantu pasangan menentukan langkah yang lebih baik untuk masa depan. (*)

Agus Mulyana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *