Berita Terkini

Kabut Asap Karhutla Mengintai, Ini Cara Melindungi Paru-Paru Keluarga

Trensehat.id – Kabut Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian. Meski asap yang sempat terpantau di wilayah Jabodetabek mulai bergerak menjauh, sejumlah daerah di Indonesia masih menghadapi potensi paparan asap. Karena itu, penting untuk memahami cara melindungi kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit jantung atau gangguan pernapasan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dalam keterangan pada 17 Oktober 2026, menyebutkan bahwa sebaran asap yang sempat memasuki Jawa bagian barat mulai menjauh. Namun, sisa sebaran masih terdeteksi di Pesisir Barat Banten pada ketinggian sekitar 3–5,4 kilometer. BMKG juga mengingatkan bahwa asap yang terdeteksi di lapisan atmosfer tidak selalu berarti kualitas udara di permukaan ikut memburuk.

Meski begitu, pemantauan tetap diperlukan. BMKG mencatat 478 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia pada 16 Oktober 2026. Sebarannya antara lain berada di Sumatra Selatan, Jawa Timur, Papua Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah. Di wilayah tertentu, kualitas udara juga sempat berada pada kategori sedang hingga tidak sehat.

Mengapa Kabut Asap Perlu Diwaspadai?

Asap kebakaran mengandung campuran gas dan partikel halus. Salah satu yang perlu diperhatikan adalah PM2.5, yaitu partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan. Paparan polusi partikel bisa memicu iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, batuk, serta membuat napas terasa tidak nyaman. Pada orang yang sensitif, kualitas udara yang buruk juga dapat memperburuk asma atau penyakit paru dan jantung yang sudah ada.

Dampak paparan tidak selalu langsung terasa sama pada setiap orang. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit kronis sebaiknya lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk. Jika muncul sesak napas berat, nyeri dada, bibir tampak kebiruan, atau kondisi memburuk dengan cepat, segera cari pertolongan medis.

Jangan menilai udara hanya dari warna langit atau bau asap. Partikel halus tidak selalu terlihat jelas, sedangkan asap yang tampak dari citra satelit belum tentu berada dekat permukaan tanah. Karena itu, periksa informasi kualitas udara dari sumber resmi, seperti pemantauan kualitas udara BMKG dan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dari Kementerian Lingkungan Hidup.

5 Cara Melindungi Keluarga Saat Kabut Asap Muncul

1. Pantau kualitas udara sebelum beraktivitas. Cek informasi resmi setempat dan sesuaikan kegiatan dengan kondisi udara. Jika indeks menunjukkan kualitas tidak sehat, kurangi aktivitas fisik di luar ruangan, terutama olahraga berat.

2. Kurangi paparan di luar rumah. Saat asap atau polusi meningkat, tunda kegiatan luar ruang yang tidak mendesak. Anak-anak sebaiknya tidak bermain lama di luar, dan kelompok rentan perlu membatasi waktu di area berasap.

3. Gunakan masker yang sesuai. Jika harus berada di luar ketika polusi partikel tinggi, respirator yang pas di wajah, seperti N95 atau KN95 yang memenuhi standar, dapat membantu mengurangi paparan partikel. Masker kain atau masker bedah tidak memberikan perlindungan setara terhadap partikel halus. Masker juga bukan pengganti upaya menghindari paparan.

4. Jaga udara di dalam ruangan. Tutup pintu dan jendela ketika udara luar memburuk, jika kondisi rumah memungkinkan. Bila tersedia, gunakan penyaring udara dengan filter HEPA dan hindari sumber polusi dalam ruangan seperti asap rokok, membakar sampah, atau menyalakan lilin dan dupa.

5. Kenali gejala dan siapkan rencana. Pastikan obat rutin bagi anggota keluarga yang memiliki asma atau penyakit jantung tersedia sesuai anjuran dokter. Hubungi tenaga kesehatan bila batuk atau iritasi menetap, gejala penyakit kronis memburuk, atau anak mengalami kesulitan bernapas. Jangan mengubah dosis obat tanpa arahan tenaga medis.

Jika berada di wilayah yang terdampak, siapkan kebutuhan dasar tanpa menunggu gejala muncul: air minum, obat rutin, nomor fasilitas kesehatan, dan rencana untuk mengurangi kegiatan luar ruang. Orang yang bekerja di luar ruangan dapat berdiskusi dengan tempat kerja mengenai penyesuaian jadwal atau lokasi saat kualitas udara menurun. Hindari membakar sampah karena tindakan tersebut menambah polusi di sekitar rumah.

Kabut Asap bukan hanya persoalan jarak pandang. Risiko kesehatan bergantung pada konsentrasi polutan, lamanya paparan, dan kondisi masing-masing orang. Tidak perlu panik, tetapi jangan pula mengabaikan peringatan. Pantau pembaruan BMKG dan ISPU, batasi paparan ketika kualitas udara memburuk, serta utamakan kelompok keluarga yang paling rentan.

Sumber: BMKG, “BMKG: Asap Sempat Terpantau Sesaat di Jabodetabek, Kini Sudah Menjauh” (17 Oktober 2026); Kementerian Kesehatan RI, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, “Karhutla di Indonesia: Saat Asap Datang, Kita Siap” (6 September 2026).

Agus Mulyana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *