Kasus ISPA di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mencapai 283.270 kasus selama periode 18 Agustus hingga 13 Oktober 2026. Angka yang disampaikan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) ini mencakup tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota. Yang bikin waswas, 63.711 kasus terjadi pada anak berusia 0–5 tahun.
Data tersebut disampaikan Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti, dalam konferensi pers penanganan karhutla pada 14 Oktober 2026. Angka ini merupakan akumulasi kasus yang tercatat di wilayah terdampak, bukan jumlah kasus dalam satu hari. Karena itu, data tersebut perlu dibaca sesuai periode dan cakupannya.
Kasus ISPA akibat karhutla: daerah mana yang paling terdampak?
Menurut laporan yang mengutip paparan Kemenkes, dari total 283.270 kasus, sebanyak 219.559 dialami penduduk berusia di atas lima tahun, sementara 63.711 kasus terjadi pada anak usia di bawah lima tahun. Kalimantan Selatan mencatat jumlah tertinggi, yakni 74.636 kasus, disusul Sumatera Selatan dengan 74.458 kasus.
Kemenkes juga memetakan sejumlah wilayah dengan kualitas udara berbahaya maupun sangat tidak sehat. Kondisi dapat berubah mengikuti titik api, arah angin, cuaca, dan upaya pemadaman. Jadi, warga sebaiknya memantau informasi kualitas udara serta pengumuman dari pemerintah daerah, bukan hanya mengandalkan apakah langit terlihat berkabut atau tidak.
Asap karhutla bukan sekadar membuat mata perih atau tenggorokan terasa kering. Asap dapat mengandung partikel halus PM2.5 dan berbagai polutan, termasuk karbon monoksida serta nitrogen dioksida. Partikel berukuran sangat kecil dapat masuk ke saluran pernapasan dan memperburuk kondisi orang yang memiliki penyakit paru atau jantung.
Paparan asap dapat memicu batuk, hidung berair, iritasi tenggorokan, napas berbunyi, dan sesak. Pada orang yang memiliki asma atau penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), polusi udara dapat memperburuk gejala. Namun, gejala gangguan pernapasan tidak selalu disebabkan asap; pemeriksaan tenaga kesehatan diperlukan untuk menentukan penyebab dan penanganan yang sesuai.
Cara melindungi keluarga dari paparan asap
Ketika kualitas udara memburuk, langkah paling penting adalah mengurangi paparan. Batasi aktivitas fisik berat di luar ruangan, terutama jika udara terasa berasap atau informasi resmi menunjukkan kualitas udara tidak sehat. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan asma, PPOK, atau penyakit jantung perlu mendapat perhatian ekstra.
Jika memungkinkan, tutup pintu dan jendela ketika asap berada di luar, dan gunakan ruangan yang paling sedikit terpapar. Bila tersedia dan sesuai kondisi rumah, alat penyaring udara dengan filter yang tepat dapat membantu mengurangi partikel di dalam ruangan. Hindari menambah polusi dalam rumah dengan merokok, membakar sampah, atau menyalakan sumber asap lainnya.
Jika harus beraktivitas di luar ruangan saat berasap, masker respirator yang pas di wajah, seperti N95 atau KN95 yang memenuhi standar, dapat membantu menyaring partikel halus. Masker kain atau masker bedah tidak memberikan perlindungan yang setara terhadap partikel asap yang sangat kecil. Masker juga tidak melindungi dari semua gas berbahaya, sehingga mengurangi waktu di area berasap tetap penting.
Orang tua sebaiknya memperhatikan perubahan kondisi anak, seperti batuk yang semakin berat, napas cepat atau sulit, anak tampak sangat lemas, sulit minum, atau bibir terlihat kebiruan. Segera cari pertolongan medis jika muncul sesak napas, nyeri dada, kebingungan, atau gejala berat lainnya. Jangan menunda pertolongan hanya karena menganggap keluhan tersebut sebagai efek asap biasa.
Warga di daerah terdampak juga perlu mengikuti arahan pemerintah setempat terkait aktivitas luar ruang dan kegiatan sekolah. Bila sekolah atau fasilitas kesehatan mengeluarkan panduan khusus berdasarkan kondisi udara lokal, ikuti informasi resmi terbaru karena tingkat paparan setiap daerah bisa berbeda. Pantau pembaruan dari dinas kesehatan, pemerintah daerah, dan kanal resmi pemantauan kualitas udara. Jangan menyebarkan foto atau angka lama seolah-olah merupakan kondisi hari ini, sebab arah asap dan tingkat pencemaran bisa berubah. Jika anggota keluarga memiliki obat rutin untuk asma atau penyakit paru, ikuti rencana pengobatan yang telah diberikan dokter dan jangan mengubah dosis sendiri. Bila keluhan muncul atau memburuk setelah terpapar asap, hubungi tenaga kesehatan untuk mendapatkan saran sesuai kondisi.
Lonjakan Kasus ISPA yang tercatat di wilayah terdampak karhutla menjadi pengingat bahwa perlindungan kesehatan perlu berjalan bersamaan dengan penanganan kebakaran. Data terbaru Kemenkes menunjukkan besarnya beban kesehatan masyarakat, terutama pada kelompok rentan. Sambil menunggu pembaruan resmi, kurangi paparan asap, pantau kualitas udara, dan segera cari bantuan medis bila gejala memburuk.
Sumber data: paparan Kementerian Kesehatan yang diberitakan Metro TV News, 14 Oktober 2026. Informasi mengenai perlindungan dari asap perlu disesuaikan dengan kondisi setempat dan arahan otoritas kesehatan.




