Trensehat.id – Pemeriksaan kesehatan sambil menikmati perjalanan ke luar kota? Konsep ini bukan sekadar menggabungkan urusan rumah sakit dengan agenda liburan. Wisata kesehatan atau medical tourism juga membuka peluang bagi masyarakat untuk mendapatkan layanan medis sekaligus menikmati pengalaman perjalanan yang lebih terintegrasi.
Peluang tersebut mulai dikembangkan melalui kolaborasi Ciputra Hospital CitraGarden City Jakarta dengan Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (ASPPI) DPD DKI Jakarta. Kedua pihak menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada 30 September 2026 untuk mengembangkan dan memasarkan paket yang menggabungkan layanan kesehatan dengan aktivitas pariwisata.
Kerja sama ini mempertemukan dua sektor yang selama ini memiliki fokus berbeda, yakni layanan kesehatan dan perjalanan wisata. Melalui kolaborasi tersebut, pemeriksaan kesehatan dan program wellness berpeluang menjadi bagian dari produk wisata yang ditawarkan kepada masyarakat.
BACA JUGA: Tak Perlu Jauh ke Luar Negeri? Ciputra Hospital Kembangkan Wisata Kesehatan di Jakarta
Wisata Kesehatan Bukan Hanya Soal Pemeriksaan Medis
Wisata kesehatan memiliki cakupan yang lebih luas daripada sekadar perjalanan untuk berobat. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa wisata medis merupakan perjalanan ke luar kota atau dari luar negeri untuk memperoleh pemeriksaan, tindakan medis, dan/atau pemeriksaan kesehatan lainnya di rumah sakit.
Kementerian Kesehatan juga menyoroti pentingnya pelayanan yang bermutu, aman, profesional, transparan, berorientasi pada pasien, serta didukung ekosistem layanan yang terintegrasi. Artinya, pengalaman wisata medis tidak hanya berkaitan dengan layanan ketika pasien berada di rumah sakit, tetapi juga mencakup persiapan perjalanan hingga tindak lanjut setelah pelayanan selesai.
Di tingkat global, minat terhadap perjalanan yang berkaitan dengan kesehatan dan kebugaran juga tercermin dalam data industri. Global Wellness Institute mencatat pengeluaran wisata wellness dunia mencapai sekitar US$893,9 miliar pada 2024, meningkat dari US$785,6 miliar pada 2023. Data tersebut mencakup perjalanan domestik dan internasional, baik yang tujuan utamanya wellness maupun yang menjadikannya sebagai aktivitas tambahan. Angka ini menggambarkan pasar wisata wellness secara global, bukan nilai pasar wisata medis Indonesia.
Direktur Ciputra Hospital CitraGarden City, dr. Margaretha, MARS, FISQua, melihat perkembangan teknologi medis sebagai peluang bagi sektor kesehatan dan pariwisata untuk bekerja sama.
“Seiring perkembangan zaman dan juga teknologi medis, kami berharap medis dan wisata bisa saling berkolaborasi di dunia pariwisata ini,” ujar dr. Margaretha.
Menurutnya, konsep tersebut tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga dapat mencakup kesehatan mental dan kenyamanan pasien maupun keluarga yang mendampingi. Dukungan sektor pariwisata diharapkan dapat menjadi bagian dari proses pemulihan sekaligus memberikan pengalaman yang lebih baik bagi pasien dan keluarganya.
BACA JUGA: Ciputra Hospital Buka Memory Clinic: Sering Lupa pada Lansia, Kapan Harus Waspada?
Ciputra Hospital Siapkan Medical Check-up hingga Program Wellness

Dalam kolaborasi dengan ASPPI, Ciputra Hospital CitraGarden City mengarahkan pengembangan wisata kesehatan pada sejumlah layanan, mulai dari pemeriksaan kesehatan (medical check-up), skrining, hingga layanan yang berkaitan dengan proses penyembuhan pasien.
Ciputra Hospital CitraGarden City sendiri merupakan rumah sakit tipe B. Pihak rumah sakit menyatakan memiliki layanan, sumber daya manusia, serta tenaga dokter yang disiapkan untuk menangani berbagai kebutuhan kesehatan masyarakat.
Ketua ASPPI DPD DKI Jakarta, Yohanes Susanto, mengatakan kerja sama ini merupakan upaya memperluas kolaborasi sektor pariwisata dan kesehatan. Menurutnya, reputasi merek serta aksesibilitas menjadi pertimbangan dalam memilih rumah sakit sebagai mitra. Lokasi rumah sakit yang relatif dekat dengan Bandara Soekarno-Hatta juga menjadi salah satu faktor pendukung bagi masyarakat yang datang dari luar Jakarta.
Yohanes menilai, pengembangan wisata kesehatan dapat menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan potensi layanan medis yang tersedia di dalam negeri.
“Medical tourism saat ini sudah banyak dijual di luar negeri, antara lain Malaysia. Kita mau mengubah stigma masyarakat bahwa di Jakarta kalau mau berobat sudah lengkap,” katanya.
Sebelum menjalin kerja sama, ASPPI telah melakukan peninjauan terhadap fasilitas rumah sakit. Kolaborasi ini juga memberikan manfaat khusus bagi anggota ASPPI berupa harga khusus dengan menunjukkan kartu tanda anggota (KTA), sesuai ketentuan kerja sama.
Ke depan, pengembangan paket wisata kesehatan diharapkan dapat membuka peluang bagi masyarakat dari luar Jakarta untuk menggabungkan perjalanan memperoleh layanan kesehatan dengan aktivitas wisata selama berada di ibu kota.
Bagi industri pariwisata, pendekatan ini menjadi peluang diversifikasi produk. Sementara bagi sektor kesehatan, kolaborasi lintas industri dapat membantu memperluas akses masyarakat terhadap informasi dan layanan medis.
Meski demikian, pengembangan wisata kesehatan tetap perlu memperhatikan mutu layanan, keselamatan pasien, transparansi informasi, dan kesinambungan perawatan. Dengan pendekatan terintegrasi, kolaborasi Ciputra Hospital dan ASPPI diharapkan dapat berkembang secara berkelanjutan serta memberikan manfaat bagi masyarakat. (*)





1 Komentar