Berita Terkini

Susah Punya Momongan? Jangan Tunggu Terlambat, Kenali Pentingnya Cek Kesuburan di RS Brawijaya

Trensehat.id – Sudah lama menikah, tetapi dua garis yang ditunggu-tunggu tak kunjung muncul? Jangan buru-buru menyalahkan salah satu pihak. Kesulitan memperoleh keturunan ternyata bukan hanya berkaitan dengan kondisi reproduksi perempuan, tetapi juga bisa dipengaruhi faktor kesuburan laki-laki. Karena itu, pemeriksaan sejak dini menjadi langkah penting agar pasangan tidak kehilangan waktu untuk mengetahui penyebab dan menentukan penanganan yang tepat.

Persoalan kesuburan memang sering menjadi perjalanan emosional bagi pasangan suami istri. Tidak sedikit yang memilih menunggu, mencoba berbagai cara, atau bahkan merasa khawatir untuk berkonsultasi dengan dokter. Padahal, mengetahui kondisi kesehatan reproduksi kedua pasangan justru bisa membantu menyusun rencana kehamilan secara lebih terarah.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi dengan subspesialisasi fertilitas dan endokrinologi reproduksi RS Brawijaya Antasari, dr. Mohammad Haekal, Sp.OG, Subsp.FER, FICS, MIGS, mengingatkan bahwa infertilitas bukan semata-mata persoalan perempuan. Faktor laki-laki juga berkontribusi terhadap kesulitan memperoleh kehamilan.

Menurutnya, evaluasi kesuburan diperlukan untuk mengetahui penyebab pasangan sulit mendapatkan kehamilan sekaligus menentukan metode penanganan yang paling sesuai. Pilihannya bisa berupa upaya kehamilan alami, inseminasi, hingga program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF).

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah usia perempuan. Seiring bertambahnya usia, jumlah dan kualitas sel telur dapat mengalami penurunan sehingga turut memengaruhi peluang keberhasilan program kehamilan.

“Kalau pasangan yang menjalani IVF di bawah 35 tahun, angkanya jauh lebih tinggi. Bisa mencapai 65 persen. Tapi kalau sudah mencapai 35 tahun, peluangnya bisa turun menjadi sekitar 30 persen,” jelas dr. Haekal.

Angka tersebut menunjukkan bahwa usia menjadi salah satu pertimbangan penting dalam perencanaan kehamilan. Meski demikian, peluang keberhasilan setiap pasangan tetap bergantung pada kondisi medis, karakteristik pasien, dan metode penanganan yang digunakan.

BACA JUGA: Bye Luar Negeri! Brawijaya Hospital Masifkan 4 Center of Excellence Demi Layanan Kesehatan Standar Global

Jangan Menunggu Dua Tahun, Kapan Pasangan Perlu Periksa Kesuburan?

Lantas, kapan sebenarnya pasangan suami istri perlu mulai memeriksakan kesuburan?

Dr. Haekal menyarankan pasangan untuk menjalani pemeriksaan apabila belum memperoleh kehamilan setelah 12 bulan melakukan hubungan seksual secara teratur tanpa menggunakan kontrasepsi.

Namun, pemeriksaan tidak harus menunggu selama satu tahun apabila perempuan memiliki faktor risiko tertentu. Beberapa kondisi yang perlu diperhatikan antara lain sindrom ovarium polikistik atau polycystic ovary syndrome (PCOS), endometriosis, gangguan menstruasi, serta riwayat masalah kesehatan reproduksi lainnya.

Pemeriksaan juga sebaiknya melibatkan pihak laki-laki. Pasalnya, kualitas sperma dan kondisi kesehatan reproduksi pria turut memengaruhi kemungkinan terjadinya kehamilan.

Melalui evaluasi menyeluruh, dokter dapat mengetahui kondisi kedua pasangan sebelum merekomendasikan tindakan medis. Artinya, tidak semua pasangan yang mengalami kesulitan hamil harus langsung menjalani program bayi tabung.

Sebagai gambaran, sekitar 85 hingga 90 persen pasangan dapat memperoleh kehamilan dalam 12 bulan. Angka tersebut dapat meningkat menjadi sekitar 95 persen dalam 24 bulan.

Namun, statistik tersebut bukan alasan untuk menunda pemeriksaan, terutama jika terdapat faktor risiko atau kondisi medis yang membutuhkan perhatian lebih awal.

Di sinilah pentingnya berkonsultasi dengan tenaga medis. Pasangan dapat mengetahui kondisi reproduksi masing-masing sekaligus memahami langkah yang paling sesuai dengan kebutuhan mereka.

BACA JUGA: Brawijaya Hospital Saharjo Gelar Seminar Kesehatan, Hadirkan Pakar Jantung dan Bedah Kardiotoraks Terkemuka

Program Bayi Tabung di RS Brawijaya, Apa Saja Pilihan Layanannya?

Perkembangan teknologi reproduksi berbantu memberikan alternatif bagi pasangan yang mengalami kesulitan memperoleh keturunan. Salah satunya melalui program IVF atau bayi tabung.

Di RS Brawijaya Antasari, layanan Benih IVF mulai beroperasi pada Oktober 2023. Layanan ini menjadi salah satu pilihan bagi pasangan yang membutuhkan penanganan fertilitas melalui teknologi reproduksi berbantu.

Secara umum, program IVF dimulai dengan stimulasi ovarium menggunakan obat untuk membantu pematangan sel telur. Setelah itu, dokter melakukan pengambilan sel telur untuk diproses bersama sperma di laboratorium.

Selanjutnya, embrio yang terbentuk dapat dipindahkan ke dalam rahim atau dibekukan untuk digunakan pada waktu berikutnya, sesuai kondisi pasien.

Durasi perawatan dan kebutuhan obat tidak selalu sama pada setiap pasien. Usia, cadangan sel telur, serta kondisi kesehatan reproduksi menjadi sejumlah pertimbangan dalam menyusun rencana perawatan.

Selain program bayi tabung, layanan fertilitas RS Brawijaya juga mencakup inseminasi, pembekuan embrio, pembekuan sel telur, pembekuan sperma, serta tindakan bedah minimal invasif seperti laparoskopi dan histeroskopi.

Dr. Haekal menyebutkan bahwa angka keberhasilan IVF yang terakhir tercatat di layanan tersebut berada di kisaran 45 persen. Angka ini perlu dipahami berdasarkan karakteristik pasien dan metode penghitungan yang digunakan.

Pasangan juga perlu memahami bahwa keberhasilan program fertilitas tidak hanya diukur dari terjadinya kehamilan. Indikator berdasarkan siklus pengobatan, pemindahan embrio, maupun kelahiran hidup dapat menghasilkan angka yang berbeda.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah pemindahan embrio. Kehamilan kembar bukan tujuan utama program bayi tabung karena dapat meningkatkan risiko komplikasi, termasuk kelahiran prematur serta masalah kesehatan pada ibu dan bayi.

Karena itu, penanganan fertilitas idealnya berorientasi pada kehamilan yang aman, bukan sekadar mengejar keberhasilan memperoleh kehamilan.

Pada akhirnya, perjalanan mendapatkan momongan membutuhkan pemahaman dan keterlibatan kedua pasangan. Pemeriksaan kesuburan sejak dini dapat membantu menemukan faktor yang memengaruhi peluang kehamilan, sehingga pilihan penanganannya lebih terarah.

Bagi pasangan yang masih bingung menentukan langkah pemeriksaan, membaca panduan Bingung Harus ke Dokter Apa? Ini Panduan Memilihnya juga bisa menjadi langkah awal untuk memahami pilihan konsultasi medis.

Jangan menunggu terlalu lama untuk mencari tahu kondisi kesehatan reproduksi. Konsultasi dengan dokter dan pemeriksaan yang sesuai dapat membantu pasangan merencanakan kehamilan dengan lebih baik. (*)

Agus Mulyana

1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *