Trensehat.id – Ketika seseorang mengalami serangan jantung, stroke, kecelakaan lalu lintas, atau henti napas, setiap menit menjadi penentu antara hidup dan mati. Dalam dunia kedokteran, kondisi tersebut dikenal sebagai golden period, yaitu waktu kritis ketika penanganan yang cepat dan tepat dapat meningkatkan peluang keselamatan pasien secara signifikan.
Sayangnya, tantangan pelayanan kegawatdaruratan di berbagai negara, termasuk Indonesia, masih cukup besar. Pertumbuhan penduduk, urbanisasi, tingginya mobilitas masyarakat, hingga meningkatnya risiko bencana alam membuat kebutuhan terhadap sistem layanan emergensi yang cepat, terintegrasi, dan berkualitas semakin mendesak.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa lebih dari separuh kematian dan lebih dari sepertiga kasus disabilitas di negara berpenghasilan rendah dan menengah sebenarnya dapat dicegah melalui sistem pelayanan kegawatdaruratan yang efektif. Cedera saja menyebabkan sekitar 4,4 juta kematian setiap tahun di dunia, sementara berbagai kondisi akut seperti serangan jantung, stroke, infeksi berat, komplikasi kehamilan, hingga trauma membutuhkan penanganan yang cepat dan terkoordinasi.
Berangkat dari tantangan tersebut, Perhimpunan Dokter Emergensi Indonesia (PDEI) menghadirkan SOE dan Kongres PDEI 2026, sebuah forum nasional yang tidak hanya menjadi ajang ilmiah bagi tenaga kesehatan, tetapi juga mendorong kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat sistem pelayanan kegawatdaruratan Indonesia.
BACA JUGA: Symposium on Emergency (SOE) 2026 Siap Digelar
Road to SOE dan Kongres PDEI 2026 Dimulai Sejak Dini
Berbeda dengan penyelenggaraan konferensi pada umumnya, persiapan menuju SOE dan Kongres PDEI 2026 tidak hanya berfokus pada agenda utama yang akan berlangsung pada September 2026 di Jakarta. PDEI telah memulai berbagai kegiatan melalui rangkaian Road to SOE dan Kongres PDEI 2026 sebagai upaya membangun sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan.
Mengusung tema “Emergency Care for the Next Decade: Innovation, Technology, and Community Preparedness”, rangkaian kegiatan ini menitikberatkan pada tiga pilar utama, yakni penguatan inovasi di bidang kedokteran emergensi, pemanfaatan teknologi kesehatan, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi kondisi gawat darurat.
Tema tersebut dinilai relevan dengan perkembangan sistem kesehatan global. WHO juga menekankan bahwa layanan emergensi dan perawatan kritis merupakan bagian penting dari sistem kesehatan karena menjadi pintu pertama penanganan pasien dengan kondisi akut. Sistem yang terintegrasi mampu mempercepat identifikasi, resusitasi, stabilisasi, hingga rujukan pasien secara tepat waktu.
BACA JUGA: Official Website PDEI
Bukan Sekadar Kongres Ilmiah
Pada acara puncaknya nanti, SOE dan Kongres PDEI 2026 akan menghadirkan simposium ilmiah, workshop hands-on, diskusi multidisiplin, pameran inovasi teknologi kesehatan, hingga berbagai sesi berbagi pengalaman dari praktisi emergensi dalam dan luar negeri.
Namun, nilai utama kongres ini bukan hanya pada transfer ilmu pengetahuan. PDEI ingin menjadikan forum tersebut sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan dokter, perawat, tenaga kesehatan, akademisi, regulator, organisasi profesi, industri kesehatan, hingga komunitas masyarakat untuk bersama-sama memperkuat sistem pelayanan kegawatdaruratan nasional.
Pendekatan kolaboratif seperti ini sejalan dengan rekomendasi WHO yang mendorong setiap negara membangun sistem emergensi yang terintegrasi, mulai dari layanan pra-rumah sakit, rumah sakit, hingga kesiapsiagaan komunitas sebagai bagian dari penguatan sistem kesehatan nasional.
BACA JUGA: Festival Relawan 2025 PDEI
Festival Relawan Bangun Kesiapsiagaan Masyarakat
Salah satu program yang menjadi sorotan dalam rangkaian menuju SOE dan Kongres PDEI 2026 adalah Festival Relawan, yakni roadshow pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD) yang akan diselenggarakan di kampus, perusahaan, instansi pemerintah, serta berbagai ruang publik.
Pelatihan ini bertujuan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memberikan pertolongan pertama sebelum tenaga medis tiba di lokasi kejadian. Dalam banyak kasus, respons masyarakat pada menit-menit pertama menjadi faktor yang sangat menentukan keselamatan korban.
WHO bahkan mengembangkan program Basic Emergency Care (BEC) bersama International Committee of the Red Cross (ICRC) dan International Federation for Emergency Medicine (IFEM) sebagai pelatihan standar bagi tenaga kesehatan lini depan. Program tersebut telah diterapkan di puluhan negara untuk meningkatkan kemampuan penanganan kondisi akut secara sistematis.
Melalui Festival Relawan, PDEI berharap semakin banyak masyarakat Indonesia memiliki pengetahuan dasar mengenai pertolongan pertama sehingga tercipta budaya kesiapsiagaan yang lebih kuat.
Kolaborasi Jadi Fondasi Transformasi
Selain edukasi masyarakat, PDEI juga membangun komunikasi dengan berbagai institusi strategis, mulai dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta, BPJS Kesehatan, BP Jamsostek, hingga dukungan akademik dari Program Studi Spesialis Emergensi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan berbagai organisasi profesi.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memperkuat pelayanan kegawatdaruratan dari berbagai aspek, mulai dari peningkatan kompetensi sumber daya manusia, pengembangan kebijakan, pemanfaatan teknologi digital, hingga peningkatan mutu layanan di fasilitas kesehatan.
Momentum Membangun Emergency Care Indonesia
Lebih dari sekadar agenda tahunan organisasi profesi, SOE dan Kongres PDEI 2026 menjadi simbol komitmen bersama untuk membangun sistem pelayanan kegawatdaruratan yang lebih siap menghadapi tantangan masa depan.
Di tengah meningkatnya beban penyakit akut, kecelakaan, hingga ancaman bencana, penguatan layanan emergensi bukan lagi menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan semata. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, organisasi profesi, sektor swasta, dan masyarakat agar setiap warga memiliki akses terhadap pelayanan kegawatdaruratan yang cepat, berkualitas, dan berkesinambungan.
Melalui semangat Innovation, Technology, and Community Preparedness, SOE dan Kongres PDEI 2026 diharapkan menjadi titik awal lahirnya berbagai inovasi, kerja sama, dan langkah konkret yang mampu memperkuat sistem emergency care Indonesia, sekaligus meningkatkan keselamatan masyarakat di masa mendatang. (*)


